KPU Kabupaten Kediri ikuti Webinar NETGRIT

KPU Kabupaten Kediri ikuti Webinar NETGRIT
Tangkapan Layar Webinar Netgrit

Kediri, kpu-kedirikab.go.id. - Kamis, (18/03/2021), Pukul 09.00 WIB Komisioner Eka Wisnu Wardhana dan jajaran sekretariat KPU Kabupaten Kediri, mengikuti webinar internasional “Perbandingan Internasional Tentang Penerapan Daftar Pemilih Berkelanjutan” yang diselenggarakan oleh Network For Democracy and Electoral Integrity (NETGRIT).

Moderator dalam acara tersebut Hadar Nafis Gumay Peneliti Senior NETGRIT. Acara dibuka dengan sambutan  Ahmad Doli Kurnia Tanjung Ketua Komisi II DPR, dilanjutkan sambutan kedua oleh Plt. Ketua KPU RI Ilham Saputra yang bertindak selaku narasumber.

Narasumber pada webinar ini, adalah National Electoral Institue (INE) Carlos Navaro dari Mexico, Commission of Ellection (COMELEC) Luie Tito F. Guia dari Philipina dan KPU dari Republik Indonesia. Webinar ini menghadirkan ahli pendaftaran pemilih Steve Chanham dari International Foundation For Ellection System (IFFES).

Carlos menyampaikan pada Tahun 1990 Meksiko terjadi kecurangan daftar pemilih yang tidak akurat. Ditengah tuduhan kecurangan dan manipulasi, keadaan ini mewakili awal perubahan didalam sejarah pemilu di Meksiko. INE harus membuat daftar pemilih yang baru dalam waktu 8 bulan. Saat ini INE membuat sebuah kampanye sistem pendaftaran pemilih yang lebih meningkatkan sistem keamanan sehingga sangat tidak mungkin untuk dipalsukan atau diubah. “Terdapat beberapa cara memperbaiki daftar pemilih yang akurat diantaranya membentuk kerangka hukum yang kompatibel untuk mendukung kegiatan penyelenggaraan pemilu, hubungan sumber daya finansial, dan SDM yang mumpuni,” terang Carlos.

Pada kesempatan selanjutnya, Luie Tito F. Guia membahas sejarah perubahan pendaftaran pemilih di Filipina dimana inti dalam penyampaiannya Filipina berpegang 2 prinsip dalam melakukan pemilu. “Ada 2 prinsip yaitu prinsip umum dan setara, daftar pemilu di Filipina disusun secara independen, ada sekitar 88 provinsi di Filipina dan daftar pemilu di Filipina muncul dari tingkat Kabupaten/Kota,” jelasnya. Luie menambahkan bahwa sekitar 6 sampai 7 minggu sebelum pemilu, seluruh kegiatan atau acara dilaksanakan di TPS, daftar pemilu yang permanen akan diperbarui setiap 12 tahun sekali dan sama seperti di Indonesia, Pemilu di Filipina juga dilakukan serentak diwaktu yang sama dalam 1 hari.

Pada sesi berikutnya Steve Chanham menjelaskan pentingnya pendidikan pemilu di Australia untuk membangun strategi agar pemilih datang ketempat pemilu secara berkelanjutan. “Teknologi informasi memiliki peran yang luar biasa untuk mendorong efisiensi, untuk memudahkan pemilih dalam penyelenggaraan pemilu, dan mengurangi resiko daftar ganda pemilih yang dapat dilihat secara langsung,” terang Steve.

Webinar ini tentu penting dilakukan, Indonesia dapat mempelajari pengelolaan data pemilih di negara lain yang melaksanakan pemilihan umum. Karena sangat dimungkinkan hal tersebut dapat diterapkan di Indonesia sesuai dengan konteks kebutuhan. (pnj/lyn).