Bahas Penggunaan Teknologi Pada Pemilu di Indonesia, KPU Kediri Ikuti Diskusi Bukan E-Voting Tetapi E-Rekap

Bahas Penggunaan Teknologi Pada Pemilu di Indonesia, KPU Kediri Ikuti Diskusi Bukan E-Voting Tetapi E-Rekap
Diskusi Bukan E-Voting Tetapi E-Rekap oleh Perludem. Minggu (29/8)

Kediri, kpu-kedirikab.go.id - Para penggiat pemilu berkumpul dalam sebuah daring yang diinisiasi oleh Perkumpulan Pemilu dan Demokrasi (Perludem) dalam sebuah diskusi melalui daring aplikasi Zoom pada MInggu (29/08) membahas mengenai  metode pemungutan dan penghitungan suara sekaligus rekapitulasi perolehan suara untuk Pemilu Tahun 2024 mendatang.

KPU Kabupaten Kediri turut hadir guna memperoleh insight baru dari para ahli penggiat kepemiluan yang sudah tidak asing lagi. Kegiatan yang berlangsung pukul 10.30 s/d 12.00 WIB tersebut turut menghadirkan narasumber yaitu Hadar Nafis Gumay (Netgrit), Nurul Amalia (Perludem), Ihsan Maulana ( Kode Inisiatif ), Dahlia Umar (Netfid), dan Heroik M Pratama (Perludem). Salah satu sesi diskusi yang menarik diantaranya pemaparan dari Dahlia Umar terkait peran penggunaan Teknologi Informasi dalam Pemilu dan Pemilukada 2024, 

Menurut Dahlia beberapa faktor terkait Mengapa harus menggunakan Teknologi Informasi dalam Pemilu dan Pemilihan Tahun 2024 diantaranya:

  1. Mempercepat proses tungsura dan rekap suara 

  2. Menghemat biaya 

  3. Memberikan informasi yang cepat dan mudah tentang hasil pemilu/pemilihan 

  4. Mengurangi potensi kecurangan 

  5. Transparansi dengan memberikan referensi dan akses bagi kontestan atau pihak yang berkepentingan terhadap dokumen resmi hasil penghitungan 

  6. Sebagai bahan pembanding membantu PPK dan KPU dalam merespons keberatan dan perbaikan dalam rekapitulasi berjenjang. 

Pemaparan mengenai bentuk teknologi yang dipraktekan pada pemilu maupun pemilihan ini sangat dibutuhkan terutama sebagai penyelenggara pada KPU dimana harus menyampaikan hasil kerjanya berupa hasil pemilu kepada masyarakat. Dahlia menunjukkan berbagai contoh penerapan teknologi dalam Pemilu, seperti E-voting di Amerika dimana pemilih menandai pilihannya pada mesin yang di TPS lalu hasil perolehan suara terhitung dan direkap secara otomatis melalui sistem yang terkoneksi jaringan internet. lalu hasil perolehan suara terhitung dan direkap secara otomatis oleh sistem. Kemudian terdapat penggunaan E-Counting dimana surat suara ditandai secara manual dan dipindai kemudian disimpan ke mesin penghitung dalam TPS. Surat suara yang dikirim melalui pos diterima oleh petugas untuk dipindai di mesin penghitung, pada E-Counting ini pemilih tetap diberikan surat suara. Harga untuk mesin e-voting maupun E-Counting ini sangatlah mahal sekitar . Sedangkan di Indonesia menggunakan E-rekap dimana Pemilih menandai surat suara dan penghitungan dilakukan secara manual di hari yang sama di TPS. Berita acara hasil penghitungan suara di TPS direkam melalui aplikasi SIREKAP Mobile TPS menggunakan foto maupun SIREKAP Web di tingkat PPK.  

Menurut Dahlia penerapan teknologi informasi di Indonesia untuk Pemilu adalah E-Rekap karena lebih murah dibandingkan dengan E-Counting dan E-Voting yang harus menyediakan peralatan di TPS yang sangat mahal. 

 "Di Indonesia kita menggunakan E-rekap, Kita tidak mengandalkan mesin yang mahal ini. Jadi waktu saya tanya harganya berapa? Ada yang 6000 dollar, ada yang sampai 9000 dollar.Jadi mesin itu memang mahal ada di satu TPS 6 mesin bahkan 10 mesin." Terang Dahlia 

Pada prosesnya, dalam penghitungan suara dan rekapitulasi pada E-rekap dengan E-Voting maupun E-Counting berbeda pada hal yang dihitung. Pada E-Voting dan E-Counting yang dititikberatkan adalah surat suara pemilih sedangkan pada E-rekap adalah berita acara rekapitulasi penghitungan suara. Hal ini dinilai bahwa proses pemungutan suara di Indonesia sangatlah transparan dan diawasi berbagi pihak serta jenis pemilu yang beragam hingga lima kotak suara. 

"Kita tidak mengikuti Amerika, kita cukup menggunakan E-rekap. Bedanya dua sistem tadi dengan pada E-rekap, Jika pada E-Voting dan E-Counting yang dihitung adalah surat suaranya sedangkan pada E-rekap yang dihitung adalah berita acara TPS-nya, kita tidak memindai surat suara Pemilih, gak mungkin karena surat suaranya gede-gede, Pemilunya lima kotak lagi. Jadi yang kita rekam adalah berita acara dan jumlah berita acara tidak sama dengan surat suara sehingga bebannya sangat jauh." Kata Dahlia. .

Kedepannya menurut Dahlia untuk pengembangan E-rekap di Indonesia oleh KPU RI harus menjadi prioritas utama karena sangat cocok diterapkan di Indonesia (bint)