PEMILIH MUDA LITERAT UNTUK PEMILU SERENTAK 2024

PEMILIH MUDA LITERAT UNTUK PEMILU SERENTAK 2024

Oleh Agus Hariono
Ketua Divisi Hukum dan Pengawasan

 

Kediri, kab-kediri.kpu.go.id - Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak akan digelar pada tahun 2024. Tepat pada 14 Februari 2022 lalu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah melakukan peluncuran tanggal pemungutan suara tahun 2024 yaitu tanggal 14 Februari 2024. Praktis dua tahun lagi Indonesia akan menggelar pesta demokrasi yang terkenal kompleksitasnya.

Pemilu pada tahun 2024 nanti merupakan Pemilu Serentak yang kedua, setelah Pemilu Serentak yang dilaksanakan pada tahun 2019 lalu. Pada Pemilu Serentak 2019, banyak diwarnai periswa berita bohong atau hoaks, kampanye hitam, dan kegiatan sejenis yang banyak merugikan semua pihak.

Pemilih muda atau pemilih milenial merupakan pemilih dengan rentang usianya antara 17-37 tahun (Nindyati, 2017). Sering juga disebut sebagai generasi Y atau generasi langgas yang dilahirkan antara tahun 1980-an sampai dengan 2000. Pemilih muda merupakan pemilih yang rasional dan kritis.

Generasi milenial memiliki perkembangan yang cepat. Banyak hal positif dan negatif yang menyertai perkembangannya. Misalnya, dalam hal teknologi generasi ini akan dengan mudah dan cepat dalam menyerap informasi yang ada pada setiap lini masa. Tetapi sayangnya, kecepatan tersebut jusru akan menjadi bias, sehingga akan sangat berkemungkinan mereka terlibat dalam penyebaran hoaks yang menyebabkan terjadinya missinformasi.

Pada Pemilu Serentak 2024 diprediksi jumlah pemilih muda akan mengalami peningkatan. Jika berkaca pada Pemilu Serentak 2019, data dari KPU, jumlah pemilih muda sudah mencapai 70 juta – 80 juta jiwa dari 193 juta pemilih. Ini artinya 35% - 40% pemilih muda sudah mempunyai kekuatan dan memiliki pengaruh besar terhadap hasil pemilu yang nantinya berpengaruh kepada kemajuan bangsa.

Jumlah yang besar tersebut akan sangat berkemungkinan menjadi sasaran pasar oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam gelaran Pemilu Serentak 2024. Di lain sisi, pemilih muda dalam konteks Pemilu, kata Anna Erliyana, Guru Besar Tetap Fakultas Hukum Unversitas Indonesia, berada dalam pusaran antara antusiasme dan apatisme politik. Artinya di satu sisi mereka semangat dan ingin mengetahui seputar Pemilu, khususnya melalui media sosial, di sisi lain, mereka antipasti terhadap Pemilu.

Akan menjadi kekhawatiran bagi mereka yang antusias lagi semangat dalam berpatisipasi dalam proses penyelenggaraan Pemilu, kalau mereka tidak mendapatkan informasi yang benar. Peran serta atau keikutsertaan kaum pemilih muda, harus dibarengi dan diimbangi dengan informasi penyelenggaraan Pemilu yang benar.

Untuk mencegah terjadinya miss informasi, keterlibatan dan praktif politik uang, serta minimnya pemahaman yang benar terkait dengan teknis pemberian suara yang sah, dan lain sebagaimana, maka melakukan literasi pemilih muda sangat penting.

Menurut UNESCO “The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization”, Literasi ialah seperangkat keterampilan nyata, terutama keterampilan dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks yang mana keterampilan itu diperoleh serta siapa yang memperolehnya. Sedangkan menurut Alberta, Literasi ialah kemampuan membaca dan menulis, menambah pengetahuan dan ketrampilan, berpikir kritis dalam memecahkan masalah, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif yang dapat mengembangkan potensi dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat. 

Sedangkan jika dikaitkan dengan politik, Bernard Crick (2000) dalam Putri (2015:79), mendefinisikan literasi politik sebagai pemahaman praktis tentang konsep-konsep yang diambil dari kehidupan sehari-hari, dan bahasa merupakan upaya memahami seputar isu politik, keyakinan para kontestan, bagaimana kecenderungan mereka mempengaruhi diri sendiri dan orang lain. Ringkasnya, literasi politik pada dasarnya merupakan senyawa yang utuh dari pengetahuan (kognisi), keterampilan (psikomotor) dan sikap (afeksi).

Dari beberapa pengertian di atas, maka yang dimaksud literasi pemilih adalah pemilih yang memiliki kemampuan membaca, berpikir kritis dalam memecahkan masalah serta dapat berkomunikasi secara efektif. Mengingat tantangan bagi pemilih muda adalah banjirnya informasi melalui internet, khususnya media sosial. Maka, literasi diperlukan untuk menyaring jenis-jenis informasi, baik informasi yang benar maupun informasi yang tidak benar.

Kecakapan berliterasi pemilih dalam berpartisipasi dalam penyelenggaraan Pemilu menjadi mutlak dimiliki. Tetapi pada prosesnya mereka tidak dapat berjalan sendiri. Sebagaimana yang diamanatkan oleh undang-undang bahwa selaku penyelenggara teknis Pemilu adalah KPU, maka sudah menjadi keharusan bagi KPU untuk melakukan literasi pemilih.

Literasi pemilih dalam rangka memberikan pengetahuan dan pemahaman yang benar terkait proses penyelenggaraan Pemilu, biasa dilakukan oleh KPU dalam bentuk pendidikan pemilih dan sosialisasi. Ragam dan bentuk pendidikan pemilih dan sosialisasi pun juga banyak. Apalagi di era digital sekarang, begitu mudah dan murahnya dalam menyebar dan mendapatkan informasi, termasuk melakukan pendidikan pemilih dan sosialisasi.

Peluang digital tersebut harus semakin dioptimalkan. Apalagi jika melihat kondisi nasional maupun dunia saat ini sedang ditimpa musibah pandemi. Sedangkan, kita semua belum dapat memastikan kapan pandemic ini akan berakhir, maka bukan tidak mungkin bila pada pelaksanaan Pemilu Serentak 2024 nanti masih dalam situasi pendemi. Setidaknya, dalam proses penyelenggaraannya berada dalam situasi pandemic.

Kondisi pandemic yang tidak memungkinan melakukan pertemuan dalam jumlah besar alias terbatas. Maka, berat bagi KPU jika harus melakukan pendidikan pemilih dan sosialisasi secara tatap muka, dan harus menjangkau seluruh kawasan. Sehingga peluang digital guna melakukan pendidikan pemilih dan sosialisasi menjadi hal yang mutlak dilakukan.

Berkaca pada Pemilihan Serentak Tahun 2020, yang dilaksanakan dalam situasi pandemic. Pelaksanaan tahapan banyak yang dilaksanakan via daring, termasuk pendidikan pemilih dan sosialisasi. Situasi pandemic menuntut optimalisasi penggunaan internet, baik untuk penyebaran informasi maupun telekonferensi. Penggunaan media digital sangat intens digunakan di kala pandemic. Maka, sudah barang tentu pada Pemilu Serentak 2024 yang akan datang, optimalisasi media digital ini mutlak dilakukan baik dalam situasi pandemic maupun normal.

Tentu saja dalam memberikan pengetahuan dan pemahaman tidak hanya melalui media digital, pertemuan tatap muka selam mematuhi ketentuan yang ada, tetap juga dapat dilakukan. Intinya adalah dalam memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada pemilih muda baik melalui pendidikan pemilih maupun sosialisasi, harus senantiasa melakukan inovasi kreatif. Agar apa yang disampaikan oleh KPU menarik dan dapat memikat para pemilih muda untuk berpartisipasi dalam proses penyelenggaraan Pemilu serta pemilih muda dapat mengetahui hak dan kewajibannya pada Pemilu Serentak 2024.

Muara dari proses pendidikan pemilih dan sosialisasi yang inovatif-kreatif kepada pemilih muda adalah mengantarkan menjadi pemilih literat. Pemilih muda yang literat dia akan mengetahui atau minimal waspada dengan berita bohong, tidak mudah terprovokasi apalagi ikut menyebarkan informasi hoaks. Pemilih muda yang literat juga akan memastikan dirinya terdaftar sebagai pemilih, melihat dan mempelajari rekam jejak setiap calon yang akan dipilih, hadir di TPS memberikan suara, serta turut mengawal proses pemungutan dan rekapitulasi penghitungan suara.