Pentingnya Pendidikan Pemilih Dalam Membangun Demokrasi

Pentingnya Pendidikan Pemilih Dalam Membangun Demokrasi
Webinar of General Election Commissions. Rabu (14/7)
Pentingnya Pendidikan Pemilih Dalam Membangun Demokrasi

Kediri, kpu-kedirikab.go.id - Rabu (14/07/2021), Pukul 13.00 WIB. KPU Kabupaten Kediri mengikuti Webinar of General Election Commissions bertema “Kritik Plato Atas Demokrasi dan Tantangan Pendidikan Pemilih”  yang diselenggarakan oleh KPU Kabupaten dan Kota Tasikmalaya. Acara ini di moderatori oleh Kadiv Sosdiklih, Parmas, dan SDM KPU kabupaten Tasikmalaya, Isti’anah dengan  menghadirkan beberapa narasumber yaitu Kadiv Sosdiklih dan Parmas Idham Holik, Ketua KPU Ade Zaenul Mutaqin, dan Ketua Prodi Aqidah Filsafat UIN Sunan Gunung Jati Bandung Neng Hannah.

Narasumber pertama, Idham Holik dalam materinya memaparkan tentang kontroversi cara Plato memandang demokrasi, dimana dalam pandangannya politik harus dikembangkan berdasarkan keutamaan hidup bukan oleh prinsip kebebasan yang artinya hanya kelompok tertentu saja yang pantas menentukan politik dan dapat memberikan koreksi pada masyarakat dan ini tentu mengabaikan partisipasi masyarakat didalamnya. “Demokrasi saat itu mengabaikan keterlibatan publik pada kekuasaan sehingga ini menganalogikan bahwasanya hanya masyarakat kelas atas yang diberikan wewenang mengatur politik” papar Idham.

Lanjut Idham, mengatur politik dengan mengabaikan kritik publik sama saja menutup diri dari pengembangan dan kemajuan sebuah sistem pemerintahan, padahal tidak dapat dipungkiri pemikiran masyarakat semakin lama semakin cerdas hal ini yang menumbuhkan rasa nasionalis kepada negaranya, sehingga pendidikan politik dan demokrasi menjadi penting dilakukan.

Sementara itu, Kaprodi Aqidah Filsafat UIN, Neng Hannah mengaitkan pendapat Plato dengan kelas dalam berbangsa, dimana beliau mengatakan sampai saat ini secara filsafat, politik dalam masyarakat masih terbagi dalam tiga kelas yaitu kelas produktor, militer, dan kelas hasrat akan pengetahuan. “Klasifikasi ini telah sesuai dengan pola pikir bagaimana manusia memahami demokrasi,” kata Hannah.

Lebih lanjut, Hannah menjelaskan bahwa kelas produktor yaitu kelas bagi orang-orang yang disetir kekuasaan, kelas militer yaitu kelas menengah/ prajurit (asal ikut karena perintah), dan kelas yang dipenuhi hasrat akan pengetahuan (memahami terlebih dahulu tidak hanya ikut-ikutan). Tentu dalam pendidikan politik dan demokrasi, kita harus mengetahui objek yang dituju dalam klasifikasi yang mana, sehingga dapat menyusun formula yang tepat dan mudah dalam memberikan sosialisasi pendidikan pemilih.

Pemateri terakhir, Ade Zaenul Mutaqin membahas urgensi pendidikan demokrasi bagi masyarakat pemilih, Ade menjelaskan dalam era sekarang pemilih dan yang dipilih harus memiliki democracy/political Intelligence, voting skill, dan political morality/public ethics melalui usaha sistematis, terencana dan terprogram. Hal inilah yang mampu menghadirkan demokrasi dengan legitimasi tinggi.”Demokasi yang baik hanya dapat dihasilkan dari kerjasama antara pemilih dan yang dipilih dengan didasari pengetahuan dan etika demokrasi”. jelas Ade.

Penutup Ade mengungkapkan pemungutan suara dalam pemilu adalah keterampilan bukan sekedar intuisi, membiarkan masyarakat memilih tanpa edukasi sama halnya membiarkan orang berjalan dalam badai yang sama halnya menghancurkan inti dan prinsip demokrasi. (pnj)